Komplek pemakaman Sultan Ibrahimsyah
Oleh : Isfandiari MD
Di pesisir Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, di mana deburan ombak Samudera Hindia memeluk daratan dengan mesra, tersimpan sebuah rahasia besar yang mengubah peta sejarah Asia Tenggara. Selama berabad-abad, narasi sejarah seolah memaku titik awal Islam di Nusantara pada abad ke-13 melalui Kerajaan Samudera Pasai. Namun, tanah Barus bicara lain. Lewat semerbak aroma kapur barus yang legendaris, kota ini berbisik tentang jejak-jejak suci yang sudah menapak di sana sejak abad ke-7 Masehi.
Barus bukan sekadar pelabuhan tua; ia adalah bebuka, sebuah gerbang cahaya yang menyinari Nusantara jauh sebelum kerajaan-kerajaan besar lainnya mengenal syiar tauhid.
Sinergi Arkeologi: Saat Perancis dan Indonesia Menggali Kebenaran
Misteri Barus mulai terkuak secara ilmiah ketika terjadi sinergi apik antara para pakar sejarah dunia. Tim dari École Française d’Extrême-Orient (EFEO) asal Perancis bergandengan tangan dengan para arkeolog nasional dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAM). Selama kurun waktu 1995 hingga 2000, situs Lobu Tua menjadi saksi bisu bagaimana kedua lembaga beda bangsa ini bekerja keras mengumpulkan kepingan teka-teki masa lalu.
Hasilnya? Mereka bersepakat dalam satu kesimpulan besar: Barus adalah gerbang masuknya Islam di Nusantara.
Catatan sejarah menyebutkan bahwa di bawah kepemimpinan Sultan Ibrahimsyah, cahaya Islam mulai berpendar di Swarnadwipa (Pulau Emas—Sumatera) dan perlahan merambat ke seantero Nusantara. Temuan ini menjadi “garis tebal” yang menggeser paradigma lama, menempatkan Barus sebagai titik nol yang tak terbantahkan.

Epitaf yang Menembus Waktu: Bukti Abad ke-7
Ilmu pengetahuan tidak pernah berjalan di atas asumsi semata, melainkan di atas fondasi data yang kuat. Barus menyodorkan data ilmiah yang mencengangkan melalui kompleks makam yang tersebar di perbukitannya.
Salah satu bukti yang paling otentik adalah makam Syekh Rukhnuddin. Berdasarkan epitaf pada batu nisannya, beliau wafat pada tahun 672 Masehi atau bertepatan dengan tahun 48 Hijriah. Angka ini bukanlah angka sembarangan. Tahun 672 Masehi berarti Islam telah sampai ke tanah Tapanuli saat generasi sahabat Nabi dan Tabi’in masih hidup di tanah Arab.
Di kompleks yang kini telah dirangkul pemerintah sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional (berdasarkan SK Menteri nomor PM.88/PW.007/MKP/2011) ini, Syekh Rukhnuddin tidak sendirian. Terdapat makam tokoh-tokoh besar lainnya seperti Syekh Zainal Abidin, Ilyas Syamsudin, Imam Khatib Muddah, hingga Syekh Imam Muadhdam dari negeri Fansuri. Mereka bukan sekadar pedagang, melainkan pembawa risalah yang menetap dan membangun fondasi sosial-religius di tanah Batak Muslim.
Pendakian Spiritual di Papan Tinggi
Jika Anda berani menantang fisik dengan menaiki sekitar 800 anak tangga di atas bukit Desa Pananggahan, Anda akan sampai pada sebuah situs yang memancarkan aura sakral: Makam Syekh Mahmudsyah, atau yang lebih dikenal dengan Makam Papan Tinggi.
Makam ini adalah primadona dari 11 artefak makam yang paling menonjol di Barus. Syekh Mahmudsyah tercatat hidup pada abad ke-7, sekitar tahun 640-an Masehi. Di lokasi yang sama, bersemayam pula seorang wanita mulia, Siti Tuhar Amisuri. Catatan pada nisannya menyebutkan beliau wafat pada 14 Safar 602 Hijriah (6 Oktober 1205 Masehi).
Fakta menariknya, Siti Tuhar Amisuri tercatat 94 tahun lebih tua daripada makam Sultan Malik As-Shaleh di Meunasah Beringin Kutakarang, Aceh, yang selama ini dianggap sebagai penanda awal Islam. Hal ini memperkuat posisi Barus sebagai pendahulu bagi pusat-pusat Islam lainnya di Sumatera.

Kesaksian Sang Keturunan Raja
Dalam sebuah ziarah yang penuh berkah, hadir sosok Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun. Beliau bukan orang sembarangan; ia adalah Ketua PBNU sekaligus Ketua Forum Keberagaman Nusantara dan Ketua Jami’ah Batak Muslim (JBI). Yang paling utama, ia adalah keturunan langsung dari Raja Barus, Sultan Ibrahimsyah.
“Saya dan rombongan ziarah ke makam beliau, Syekh Mahmudsyah, leluhur kami. Beliau adalah tokoh panutan yang selalu menjadi cahaya yang menyinari Nusantara,” ungkap sosok perlente ini dengan penuh takzim.
Arif menambahkan poin krusial: sebelum Islam masuk lewat para pedagang Arab pada abad ke-7, zona Barus sudah menjadi magnet perdagangan dunia. Hal ini sejalan dengan naskah kuno Barus Kingdom yang diedit oleh Jane Drakard. Laporan-laporan tersebut mengisahkan betapa sibuknya ekspor kapur barus dari kerajaan ini ke seluruh penjuru dunia.
Kapur Barus: Dari Mumi Fir’aun hingga Catatan Marco Polo
Mengapa orang-orang Arab, Mesir, Persia, Armenia, hingga Tiongkok begitu bernafsu mencari Barus? Jawabannya ada pada kristal putih yang dihasilkan pohon Dryobalanops aromatica.
Kapur barus bukan sekadar pengharum pakaian. Sejak zaman Nabi Musa, para pengelana lintas benua sudah memburu komoditas ini. Bahkan, dalam sejarah Mesir Kuno, kapur barus asal Sumatera ini digunakan sebagai salah satu bahan utama dalam proses pengawetan mumi para Fir’aun. Bisa dibayangkan, ribuan tahun lalu, produk dari sebuah desa di Tapanuli Tengah sudah sampai ke meja-meja laboratorium para pendeta Mesir.
Dunia Barat pun mengakui keagungan Barus. Marco Polo, pengelana legendaris asal Venesia, tercatat pernah singgah di Sumatera pada tahun 1292 saat menunggu cuaca baik untuk kembali ke Eropa setelah mengunjungi Kubilai Khan di Tiongkok. Marco Polo menjadi saksi hidup peradaban Islam yang sudah mapan di sana, merekam romantika raja-raja kesultanan yang mengelola kekayaan alamnya dengan bijaksana.
Tugu Titik Nol: Simbol Kebangkitan Sejarah
Untuk mengabadikan keagungan masa lalu ini, sebuah langkah besar diambil. Atas ikhtiar para tokoh seperti Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun dan didukung penuh oleh pemerintah, dibangunlah Tugu Peradaban Islam Nusantara.
Tugu ini diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2017, menandakan pengakuan negara atas Barus sebagai titik awal perjalanan panjang Islam di Indonesia. Langkah ini diteruskan dengan kunjungan Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin, mempertegas bahwa Barus adalah aset sejarah yang tak ternilai harganya.
Kini, tugu tersebut berdiri kokoh di tepi pantai Barus. Ia menjadi magnet baru bagi para pemerhati sejarah yang ingin melakukan refleksi, para ulama dan santri yang ingin menapak tilas jejak dakwah para pendahulu, hingga wisatawan umum yang ingin menikmati perpaduan antara wisata religi dan pesisir yang eksotis.
Baca juga : PERJALANAN PANJANG TNI-SANTRI-MOTORIS
Kesimpulan: Menghargai Akar, Membangun Masa Depan
Mempelajari Barus adalah upaya kita untuk menolak lupa. Bahwa jauh sebelum batas-batas modern terbentuk, Nusantara sudah menjadi pusat perhatian dunia karena kekayaan alam dan keterbukaan spiritualnya. Barus mengajarkan kita bahwa Islam masuk ke bumi pertiwi dengan cara yang lembut melalui jalur perdagangan dan kebudayaan.
Hari ini, saat kita berdiri di depan Tugu Peradaban Islam Nusantara, kita tidak hanya melihat batu dan semen. Kita sedang melihat cermin masa lalu yang mengingatkan bahwa kita adalah bangsa besar yang peradabannya telah diakui oleh dunia sejak ribuan tahun silam.







