Indonesia tidak sedang kekurangan tantangan, tetapi sedang belajar menyempurnakan kehadiran negara di tengah ujian
Refleksi Akhir Tahun 2025
Dari Tanah yang Retak, Negara Hadir, dan Harapan Dijaga
Tahun 2025 hampir berlalu, meninggalkan jejak yang tak terlupakan dalam perjalanan kolektif bangsa kita. Seperti ombak yang tak henti-hentinya menerpa pantai, peristiwa-peristiwa sepanjang tahun ini telah membentuk karakter dan arah kita menuju tahun depan. Kini saatnya kita merenungkan makna dari setiap gelombang perubahan yang terjadi.
Tahun 2025 hampir selesai, namun ia tidak pergi diam-diam. Ia meninggalkan gema di ruang-ruang kebijakan, di ladang-ladang pangan, dan di tanah-tanah yang retak oleh bencana. Tahun ini mengajarkan kita satu hal penting, Indonesia tidak sedang kekurangan tantangan, tetapi sedang belajar menyempurnakan kehadiran negara di tengah ujian.
Dari Aceh hingga Sumatra Barat, dari pusat kekuasaan hingga daerah terjauh, bangsa ini diuji bukan hanya oleh alam, tetapi oleh kemampuan kita merawat kemanusiaan dan ketahanan bersama.
Bencana: Negara Hadir, Pengorbanan Nyata
Bencana alam yang melanda beberapa daerah terutama yang paling membuat hati kita pilu yaitu di Aceh dan Sumatra Barat meninggalkan duka mendalam. Rumah-rumah hilang, infrastruktur rusak, dan kehidupan warga terhenti sejenak. Namun di tengah kepiluan itu, satu hal patut dicatat dengan jujur, Negara hadir.
Negara hadir tidak hanya menyelamatkan para korban namun menyiapkan dan menyediakan seluruh kebutuhan pasca bencana.
Pemerintah mengerahkan seluruh potensi mulai dari BNPB, TNI, Polri, relawan, hingga tenaga medis yang tanpa lelah bekerja siang dan malam. Bahkan, pengabdian itu menuntut harga paling mahal, gugurnya prajurit TNI yang sedang menjalankan misi kemanusiaan. Mereka tidak hanya menjaga kedaulatan, tetapi juga menjadi garda terdepan kemanusiaan. Pengorbanan ini adalah pengingat bahwa di balik kebijakan dan struktur, ada manusia-manusia yang bekerja dengan risiko tertinggi demi sesama anak bangsa.
Namun kehadiran negara saat bencana juga harus menjadi pintu evaluasi, agar mitigasi lebih kuat, tata ruang lebih bijak, dan korban tidak terus berulang karena kesalahan yang sama.
Politik: Lebih dari Sekadar Retorika
Sepanjang 2025, politik Indonesia bergerak dalam fase transisi. Publik menuntut bukan sekadar janji, tetapi kerja yang terukur dan terasa. Di sinilah ujian kedewasaan demokrasi, dimana kita semua mampu mengapresiasi langkah benar pemerintah, tanpa menutup mata terhadap kekurangan yang masih harus dibenahi.
Politik yang sehat bukan yang kebal kritik, tetapi yang mau mendengar dan memperbaiki.
Ekonomi dan Ketahanan Pangan: Capaian yang Patut Dicatat
Tahun 2025 juga menjadi momen penting bagi pemulihan ekonomi. Kebijakan Kementerian Keuangan yang inovatif, memfokuskan pada pengelolaan fiskal yang berkelanjutan dan inklusif, telah memberi nafas baru bagi sektor-sektor yang terpuruk. Namun, harapan ini datang bersamaan dengan tantangan berat. Perbedaan yang mencolok antara mereka yang kaya dan miskin masih terlihat. Masih banyak orang yang tersisih dari arus modernisasi. Sebagai masyarakat, kita harus mendorong kebijakan ekonomi yang merata. Investasi dalam pendidikan dan pelatihan keterampilan bagi generasi muda harus menjadi prioritas. Pemberdayaan ekonomi lokal, terutama bagi usaha kecil dan menengah, perlu didorong agar inklusi ekonomi dapat terwujud.
Tidak kalah pentingnya adalah upaya pemerintah dalam pemberantasan korupsi yang selama ini menjadi cacat besar dalam tata kelola publik. Munculnya langkah-langkah konkret menuju transparansi dan akuntabilitas di sektor publik menandai babak baru yang penuh harapan. Namun, keberanian untuk merombak kultur birokrasi yang sarat dengan praktik-praktik korupsi harus menjadi fokus utama. Memastikan bahwa anggaran negara benar-benar sampai kepada masyarakat adalah tantangan yang harus dijawab. Kesadaran kolektif di tengah publik untuk menolak aksi korupsi harus semakin diperkuat, menjadi gerakan rakyat yang tak terhentikan.
Di tengah ketidakpastian global, satu capaian nasional patut mendapat perhatian serius yaitu ketahanan pangan.
Ini merupakan keberhasilan Kementerian Pertanian yang patut mendapatkan apresiasi dimana untuk pertama kalinya dalam 57 tahun terakhir, Indonesia berhasil memiliki cadangan beras nasional yang sangat besar. Ini bukan angka semata, melainkan simbol kerja keras dan kerja panjang dari petani, kebijakan produksi, hingga pengelolaan stok nasional serta sistem pengelolaan yang baik dan benar. Capaian ini penting, terutama ketika perubahan iklim dan krisis global menjadikan pangan sebagai isu strategis dunia. Ketahanan pangan adalah fondasi stabilitas sosial dan politik. Tanpa pangan, tidak ada ketenangan.
Namun capaian ini juga harus dijaga dengan kebijakan yang adil agar petani tetap sejahtera, distribusi merata, dan harga terjangkau bagi rakyat.
MBG: Investasi Peradaban
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah wajah lain dari kehadiran negara, sebuah inisiatif pemerintah yang dihadirkan sebagai jembatan untuk mengatasi ketidakadilan gizi, terutama bagi generasi muda. Menawarkan janji kesejahteraan dan kesehatan, MBG adalah harapan yang terikat pada kenyataan pahit yang harus dihadapi.
Di setiap sudut kota, latar belakang yang beragam menyuguhkan potret kehidupan rakyat. Bayangkan seorang ibu, berjuang di tengah biaya hidup yang terus melambung. Dengan penghasilan yang pas-pasan, ia harus berhadapan setiap hari dengan pilihan sulit untuk memberi makanan bergizi kepada anak-anaknya. Terkadang, sebuah paket nasi dan telur ceplok sudah cukup untuk mengisi perut, meski kita tahu, asupan gizi yang seimbang jauh lebih penting. Program MBG, hadir seakan menjadi jawaban atas kerisauan hati itu. Namun, menjalaninya bukanlah hal yang mudah. Di balik ide besar ini, terdapat perjalanan panjang yang harus ditempuh, sebuah proses yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah pusat sampai semua elemen masyarakat.
Ia tidak sempurna, tetapi niat besarnya jelas, memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan siap belajar. Ini bukan sekadar program sosial, melainkan investasi jangka panjang peradaban.
Tantangannya adalah memastikan MBG berjalan tepat sasaran, transparan, dan berkelanjutan. Karena program besar hanya akan bermakna jika dijalankan dengan tata kelola yang kuat.
Di setiap langkah implementasi MBG, ada kendala yang menghadang. Distribusi yang tidak merata, masalah logistik, serta ketidakpahaman sebagian masyarakat akan pentingnya gizi seimbang, memperlambat laju program ini. Kita perlu mengakui bahwa menciptakan sistem yang mampu memberikan makanan bergizi tanpa hambatan bukan saja soal menyediakan makanan. Ini adalah sebuah perjalanan ilmu, penyuluhan, dan kesadaran bahwa setiap piring yang diisi adalah investasi bagi masa depan anak-anak kita
Sosial Budaya: Rakyat yang Tidak Pernah Menyerah
Di balik kebijakan dan aparat, ada kekuatan yang tak pernah gagal, Rakyat Indonesia.
Gotong royong, solidaritas, dan nilai budaya lokal di Aceh dan Sumatra Barat kembali membuktikan bahwa bangsa ini memiliki modal sosial yang luar biasa.
Budaya menjaga kita tetap manusiawi di tengah krisis. Tanpanya, pembangunan hanyalah statistik dingin.
Menatap 2026: Antara Harapan dan Tanggung Jawab
Tahun 2026 akan menjadi tahun peneguhan arah.
Apakah kehadiran negara saat krisis bisa menjadi sistem permanen?
Apakah capaian pangan bisa dijaga konsistensinya?
Apakah program unggulan mampu bertahan melampaui kepentingan politik jangka pendek?
Indonesia tidak kekurangan niat baik. Yang dibutuhkan adalah kesetiaan pada tujuan, keberanian memperbaiki, dan kerendahan hati untuk belajar.
Sebagai media, tugas kami sebagai media bukan memuji tanpa jarak, juga bukan mengkritik tanpa empati.
Tugas kami adalah menjaga kewarasan publik, merawat harapan, dan memastikan kekuasaan tetap berpihak pada manusia.
Dari tanah yang retak, kita belajar tentang pengorbanan.
Dari lumbung yang penuh, kita belajar tentang perencanaan.
Dan dari 2025, kita berharap 2026 menjadi tahun di mana negara, rakyat, dan masa depan berjalan dalam satu irama.
( Pemred 2025 )




