Sebuah kisah dramatis tentang Bratasenaku, suami yang mengorbankan segalanya demi cinta, namun harus terusir dengan saku kosong oleh keangkuhan Irianti.
Dunia Bratasenaku tidak pernah luas. Dunianya hanya berporos pada satu titik koordinat: senyum Irianti. Baginya, mencintai adalah bentuk ibadah yang paling sunyi, sebuah pengabdian tanpa tanda baca, di mana ia rela menjadi tanah agar Irianti bisa tumbuh menjadi bunga yang paling indah. Namun, ia lupa satu hal; tanah yang terlalu lama diinjak-injak tanpa pernah diberi pupuk kasih sayang, lama-kelamaan akan menjadi tandus dan mati.
Ini adalah sebuah memoar tentang ketulusan yang dibalas dengan belati, dan tentang pengorbanan yang berakhir di pinggir jalan, diusir oleh sosok yang ia sebut “rumah”.
Mazmur Pengabdian yang Tak Berbalas
Bratasenaku adalah pria dengan punggung sekuat baja, namun memiliki hati selembut kapas. Selama bertahun-tahun pernikahan mereka, ia telah melipat harga dirinya rapi-rapi di dalam laci paling bawah. Ia bekerja melampaui batas lelah, merelakan mimpi-mimpinya terkubur demi Irianti.
Baginya, tidak ada kata “lelah” selama Irianti merasa cukup. Ia adalah tameng yang menghalau badai, payung yang menahan hujan, dan jembatan yang membiarkan Irianti menyeberangi kesulitan hidup tanpa harus membasahi kakinya. Namun, bagi Irianti, semua itu hanyalah kewajiban yang lumrah. Di mata Irianti, Bratasenaku bukan pahlawan; ia hanyalah pelayan yang kebetulan dinikahinya.
Irianti: Ratu Tanpa Singgasana Empati
Irianti adalah personifikasi dari keangkuhan yang dingin. Ia memiliki kecantikan yang memikat, namun di balik itu, ada jiwa yang haus akan validasi dan dominasi. Baginya, meminta maaf adalah sebuah aib, dan mengakui kesalahan adalah tanda kelemahan. Dalam kamus hidupnya, ia adalah kebenaran mutlak.
Setiap malam di rumah mereka tidak pernah diisi dengan diskusi hangat, melainkan monolog makian. Suara Irianti seringkali membelah sunyi, merobek martabat Bratasenaku dengan kata-kata yang lebih tajam dari sembilu. “Kamu itu tidak ada gunanya!” “Laki-laki macam apa kamu, hanya bisa memberi segini?” “Jangan harap aku akan menghargaimu, karena kamu memang rendah!”
Bratasenaku hanya akan menunduk. Bukan karena ia takut, tapi karena ia mencintai dengan cara yang salah; ia mencintai hingga kehilangan dirinya sendiri. Ia percaya bahwa dengan kesabaran seluas samudra, suatu saat hati Irianti yang sekeras batu karang akan terkikis oleh tetesan kasih sayangnya. Namun ia keliru. Batu itu tidak terkikis, ia justru semakin tajam dan siap menghunjam.
Drama di Ambang Pintu: Pengusiran Sang Pejuang
Malam itu, jarum jam seakan bergerak lebih lambat di kediaman mereka. Udara merayap masuk melalui celah-celah jendela, membawa hawa pegunungan yang menusuk tulang. Di ruang tengah, cahaya televisi yang berpendar redup menyinari sosok Irianti yang tertidur lelap di sofa dengan posisi yang tidak nyaman. Di sudut lain, Bratasenaku baru saja menyelesaikan pekerjaan tambahannya hingga larut malam.
Melihat belahan jiwanya meringkuk kedinginan tanpa selimut, hati Bratasenaku tergerak oleh naluri perlindungan yang telah menjadi napasnya selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa perhatian tulusnya malam ini akan menjadi tiket keberangkatannya dari rumah yang ia bangun dengan darah dan air mata.
Niat Baik yang Terbentur Dinding Keangkuhan
Dengan langkah yang sangat hati-hati—nyaris tanpa suara agar tidak mengusik mimpi istrinya—Bratasenaku mendekat. Ia berlutut di samping sofa, menatap wajah Irianti yang dalam tidur pun masih menyisakan garis ketegasan yang angkuh.
“Sayang… Bangunlah sebentar,” bisik Bratasenaku lembut, suaranya sehalus hembusan angin. “Pindah ke kamar, ya? Di sini udaranya sangat dingin, nanti kamu sakit. Di dalam jauh lebih hangat.”
Sentuhan ringan Bratasenaku di bahu Irianti ternyata bukan dianggap sebagai belaian, melainkan gangguan. Irianti tersentak, matanya terbuka lebar dengan kilatan amarah yang instan. Baginya, dibangunkan dari tidur adalah sebuah pelanggaran kedaulatan, tak peduli apa alasannya.
“Apa-apaan kamu ini?!” suara Irianti langsung meninggi, memecah kesunyian malam. “Siapa yang menyuruhmu mengatur tidurku? Kamu pikir aku anak kecil?”
Badai dari Hal Sepele
Bratasenaku tertegun. Ia mencoba tersenyum sabar, meski dadanya mulai sesak. “Bukan begitu, Irianti. Aku hanya khawatir. Suhu malam ini sangat ekstrem, dan kamu tidak memakai selimut. Aku hanya ingin kamu nyaman di kamar kita.”
“Nyaman katamu?” Irianti bangkit berdiri, menatap suaminya dengan tatapan merendahkan yang sudah menjadi makan sehari-hari bagi Bratasenaku. “Jangan sok peduli! Kamu hanya ingin pamer kalau kamu adalah suami yang paling perhatian, kan? Kamu itu tidak pernah benar di mataku! Caramu membangunkan aku saja sudah membuatku muak!”
Bratasenaku berusaha menjelaskan, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya seolah menjadi bensin bagi api yang berkobar di dada Irianti. Irianti adalah sosok yang pantang merasa salah. Baginya, jika ia merasa terganggu, maka kesalahan mutlak ada pada si pengganggu, bukan pada reaksinya yang berlebihan.
“Sudah berapa kali kukatakan,” teriak Irianti lagi, “Jangan pernah mengatur hidupku! . Tanpa aku, kamu itu bukan siapa-siapa!”
Pengusiran di Tengah Keheningan
Caci maki itu mengalir deras. Irianti mulai mengungkit segala hal yang tidak relevan, merendahkan martabat Bratasenaku sebagai kepala keluarga, dan memaki setiap pengorbanan yang pernah pria itu lakukan. Di mata Irianti, perhatian suaminya malam itu dianggap sebagai bentuk “pendiktean” yang tidak bisa ia toleransi.
“Kalau kamu masih ingin sok mengaturku di rumah ini, lebih baik kamu yang pergi! Pergi sekarang juga!”
Bratasenaku terpaku. “Ini sudah jam dua pagi, Irianti. Di luar sangat dingin…”
“Aku tidak peduli!” “Pergi! Cari tempat di mana kamu bisa mengatur orang sesukamu. Aku tidak butuh perhatian palsumu!”
Tidak ada rasa iba, tidak ada rasa kemanusiaan. Irianti merasa dirinya adalah korban yang sedang membela diri dari “gangguan” suaminya. Ia menutup pintu dengan bantingan keras yang getarannya terasa hingga ke pondasi rumah, meninggalkan Bratasenaku berdiri membeku .
Bratasenaku berdiri terpaku di ambang pintu. Ia menatap Irianti—wanita yang kepadanya ia telah menyerahkan seluruh hidupnya. Di saat itu, ironi yang paling pedih terjadi. Bratasenaku merogoh sakunya, mencari sisa uang untuk sekadar mencari tempat berteduh, namun ia tersenyum pahit. Uangnya sudah habis. Seluruh hartanya, setiap keping recehan dari hasil keringatnya, telah habis ia berikan kepada Irianti yang tak pernah puas.
Ia terusir dari rumah , oleh wanita yang ia muliakan, tanpa sepeser pun uang di saku.
Kebisuan di Tengah Kehancuran
Saat Bratasenaku dengan tangan gemetar mulai merapikan baju-baju kerjanya—peralatan yang ia gunakan untuk mencari nafkah demi istrinya—Irianti melakukan hal yang paling menyakitkan bagi kemanusiaan. Tanpa rasa iba sedikit pun, tanpa setetes air mata penyesalan, Irianti justru melangkah kembali ke sofa, menyelimuti dirinya, dan tidur dengan pulas.
Ia seakan tidak peduli bahwa di luar sana hari sudah sangat larut. Ia tidak peduli bahwa suaminya, yang baru saja ia usir, tidak punya tempat tujuan dan tidak punya uang untuk sekadar membeli segelas air. Bagi Irianti, dunianya sudah kembali tenang setelah “gangguan” itu disingkirkan. Ketulusan Bratasenaku hanyalah sampah yang harus dibuang ke pinggir jalan.
Baca Juga : Debu di Atas Pusara: Ketika Kesabaran Menemui Batas Akhirnya
Keheningan di Bawah Hujan
Bratasenaku kini duduk di sebuah bangku taman, memandang rembulan yang muncul malu-malu di balik awan. Ia masih terluka, ya. Rasa sakit itu masih berdenyut di dadanya. Namun, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia bisa bernapas dengan lega. Tidak ada lagi teriakan yang memekakkan telinga, tidak ada lagi hinaan yang merendahkan jiwanya.
Ia kehilangan seorang istri yang tidak mencintainya, tapi ia menemukan kembali dirinya yang sempat hilang. Drama ini mungkin berakhir dengan pengusiran, namun secara simbolis, ini adalah pembebasan.
Sebab terkadang, Tuhan harus mengusir kita dari tempat yang kita sebut “nyaman” hanya agar kita tidak mati perlahan dalam kehinaan. Bratasenaku telah menyelesaikan bab pahitnya, dan di atas kertas kehidupannya yang baru, ia mulai menulis sebuah kalimat sederhana: “Aku berharga, bahkan tanpa pengakuanmu.”. Selama ini ia terpenjara dalam pengabdian yang beracun. Ia mencintai seorang dewi yang ternyata hanyalah patung batu tanpa nyawa.
Ia menyadari bahwa Irianti adalah sosok yang pantang meminta maaf karena Irianti tidak pernah merasa memiliki ruang untuk orang lain di dalam hatinya. Hati Irianti sudah penuh sesak dengan dirinya sendiri. Seorang manusia yang tidak bisa merasa salah adalah manusia yang paling malang, karena ia tidak akan pernah bisa belajar untuk menjadi lebih baik.
“Mencintai seseorang yang tidak tahu cara menghargai diri sendiri adalah seperti menuangkan air ke dalam gelas yang retak. Sebanyak apapun kau memberi, ia tidak akan pernah penuh, dan kau hanya akan berakhir dengan kelelahan yang sia-sia.”
Pelajaran dari Luka Bratasenaku
Kisah Bratasenaku dan Irianti adalah cermin bagi kita semua. Seringkali, kita terjebak dalam drama kehidupan di mana kita merasa harus menjadi martir demi orang yang kita cintai. Kita berpikir bahwa cinta yang tulus sanggup mengubah segalanya. Namun, kenyataan pahitnya adalah: Cinta tidak bisa bekerja sendirian.
Cinta membutuhkan dua tangan yang saling menggenggam, bukan satu tangan yang menggenggam sementara yang lain memukul.
Untuk para Bratasenaku di luar sana: Jangan biarkan ketulusanmu menjadi karpet bagi orang lain untuk menginjak-injak harga dirimu. Mencintai dengan tulus bukan berarti membiarkan dirimu dihancurkan. Ada batas tipis antara pengabdian dan penghancuran diri. Jika rumah yang kamu bangun justru membuat jiwamu tunawisma, mungkin itu saatnya untuk pergi dan membangun rumah di dalam dirimu sendiri.
Untuk para Irianti di luar sana: Ketahuilah bahwa ego yang setinggi langit akan terasa sangat dingin saat tidak ada lagi orang yang mau menyelimutimu. Penyesalan selalu datang dengan langkah yang senyap, biasanya tepat setelah orang yang paling tulus itu memutuskan untuk berhenti menoleh ke belakang. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari bahwa apa yang kamu miliki adalah anugerah, bukan sekadar fasilitas.







