Kabupaten Biak Numfor, yang terletak di Provinsi Papua, Indonesia, merupakan wilayah yang kaya akan sejarah, budaya, dan keindahan alam.
𝐒𝐮𝐚𝐫𝐚 𝐉𝐚𝐲𝐚𝐦𝐚𝐡𝐞, Kabupaten Biak Numfor, yang terletak di Provinsi Papua, Indonesia, merupakan wilayah yang kaya akan sejarah, budaya, dan keindahan alam. Sebagai bagian dari gugusan pulau di utara Papua, Biak memiliki jejak sejarah panjang yang dimulai dari keberadaan suku Biak, kelompok etnis Melanesia yang telah mendiami wilayah ini sejak ribuan tahun lalu. Pada abad ke-16, penjelajah Eropa mulai menjalin kontak dengan penduduk asli, dan pengaruh kolonial Belanda pun mengakar sejak akhir abad ke-17.
Salah satu bab penting dalam sejarah Biak adalah keterlibatannya dalam Perang Dunia II. Pada tahun 1944, Pertempuran Biak menjadi titik strategis bagi pasukan Sekutu dalam merebut wilayah Pasifik dari Jepang. Sisa-sisa sejarah militer ini kini menjadi daya tarik wisata sejarah yang unik.
Baca Juga : Kesenian Asli Sunda: Warisan Budaya Jawa Barat Tetap Lestari
Dalam era kemerdekaan, Biak Numfor berkembang sebagai pusat administrasi dan ekonomi di Papua. Sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur terus mengalami peningkatan, meskipun tantangan masih ada di daerah terpencil.
Budaya suku Biak sangat kaya dan beragam. Mereka memiliki tradisi lisan, seni tari, kerajinan tangan seperti ukiran kayu dan tenun, serta alat musik tradisional seperti tifa. Tarian khas seperti Yospan dan Wor menggambarkan semangat dan nilai spiritual masyarakat Biak. Bahasa Biak, bagian dari rumpun Austronesia, digunakan dalam komunikasi sehari-hari dan memiliki berbagai dialek.
Sektor ekonomi Biak Numfor didukung oleh pertanian, perikanan, dan pariwisata. Komoditas seperti kelapa, kakao, dan sagu menjadi andalan, sementara laut yang kaya menjadikan perikanan sebagai sumber penghidupan utama. Keindahan pantai, terumbu karang, dan situs sejarah menjadikan Biak sebagai destinasi wisata yang menarik.
Semua kekayaan ini akan ditampilkan dalam Festival Budaya Biak 2025, yang berlangsung pada 18–20 Oktober. Festival ini akan menghadirkan pertunjukan tarian Wor dan Yospan, atraksi berjalan di atas batu panas (apen beyeren), masak tradisional Barapen, serta pameran pariwisata dan UMKM. Partisipan dari Papua Nugini, negara-negara Pasifik, dan Afrika Timur akan turut memeriahkan acara ini, menjadikannya ajang budaya internasional yang memperkuat identitas Biak sebagai pusat warisan budaya yang hidup dan dinamis.








Semoga bersama SJ seluruh aktifitas budaya bangsa terus berjaya dan dapat menjadi kekayaan Indonesia yg menjadikan Indonesia semakin kaya dan kaya