kemeriahan Kidung Natal Indonesia di Galeri Indonesia Kaya bersama Krontjong Toegoe.
JAKARTA, Suasana syahdu menyelimuti jantung ibu kota saat alunan musik keroncong yang mendayu mulai memenuhi ruangan Galeri Indonesia Kaya (GIK). Pada Sabtu, 20 Desember 2025, GIK kembali membuktikan dedikasinya sebagai panggung budaya dengan menggelar konser bertajuk “Kidung Natal Indonesia”. Pertunjukan yang diselenggarakan dalam dua sesi (pukul 15.00 dan 19.00 WIB) ini sukses menyulap perayaan Natal menjadi momen refleksi budaya yang mendalam.
Bintang utama malam itu adalah Krontjong Toegoe, grup musik legendaris yang telah eksis sejak 1988. Kelompok ini bukan sekadar musisi; mereka adalah penjaga nyala api tradisi keroncong yang konsisten melakukan regenerasi lintas generasi. Di tangan mereka, musik keroncong yang sering dianggap “musik orang tua” berubah menjadi bahasa universal yang mampu menyentuh hati semua kalangan.
Baca Juga : Festival Budaya Papua Selatan 2026: Komitmen Pemprov Lestarikan Seni Lokal

Setlist Natal: Dari Klasik hingga Karya Orisinal
Mengusung semangat Natal yang inklusif, Krontjong Toegoe membawakan sepuluh lagu pilihan yang merangkai perjalanan emosi penonton. Konser dibuka dengan lagu “Angin Desember”, sebuah karya menyentuh dari Tino Michiels. Lagu ini bukan sekadar pengantar musim dingin, melainkan sebuah narasi kerinduan tentang kebahagiaan menyambut Natal di Kampung Tugu, meskipun suasana tak lagi sama karena kepergian kedua orang tua.
Sederet lagu Natal klasik dan rohani seperti Hai Mari Berhimpun, Dari Pulau dan Benua, Mary’s Boy Child, Feliz Navidad, Glory-Glory Haleluya, Hai Dunia, White Christmas, hingga Jingle Bell Rock dibawakan dengan aransemen keroncong yang segar. Alunan cak, cuk, dan betot kontrabas memberikan tekstur unik pada lagu-lagu barat tersebut, menciptakan nuansa “Natal rasa Indonesia” yang kental.
Pertunjukan ditutup dengan sangat meriah lewat komposisi orisinal karya Illo Djeer yang berjudul “Merry Krontjong Everyone”. Lagu ini membawa pesan optimisme, mengajak semua orang untuk melupakan kegalauan masa lalu dan menyambut hari lahir Sang Juru Selamat dengan suka cita melalui denting musik keroncong.

Warna Emosional dan Representasi Budaya
Kekuatan konser ini tidak hanya terletak pada instrumen, tetapi juga pada harmoni vokal tiga penyanyi berbakat: Juliette Angela, Vanda Hutagalung, dan Melody. Ketiganya memberikan warna emosional yang kontras namun saling melengkapi—terkadang membawa penonton ke suasana haru yang khidmat, kemudian meledak dalam kegembiraan yang meriah.
Konsep “Keindonesiaan” ditampilkan secara totalitas. Selain aransemen keroncong, para penampil mengenakan kostum yang merepresentasikan kekayaan daerah di Nusantara. Bahkan, beberapa lirik lagu disisipkan bahasa daerah seperti Jawa, Batak Toba, Batak Karo, hingga Bali. Penggunaan bahasa daerah dalam lagu Natal ini menjadi penanda bahwa iman dan budaya dapat berjalan beriringan dalam harmoni yang indah.

Magnet Wisatawan dan Antusiasme Lintas Generasi
Antusiasme pengunjung terlihat dari bangku penonton yang selalu penuh di setiap sesi. Menariknya, banyak audiens yang mengaku ini adalah pengalaman pertama mereka menonton pertunjukan keroncong secara langsung. Salah satunya adalah Ray, seorang wisatawan asal Thailand yang baru dua hari menginjakkan kaki di Jakarta. Ia mengaku terpukau dan sangat menikmati kesegaran musik keroncong yang ternyata sangat ramah di telinga penikmat musik modern.
Interaksi antara musisi dan penonton tercipta secara natural. Ajakan untuk bernyanyi bersama membuat batas antara panggung dan penonton hilang, berganti dengan suasana kekeluargaan yang hangat.

Wajah Nyata Bhinneka Tunggal Ika
Momen paling berkesan terjadi di tengah acara ketika Vanda Hutagalung memperkenalkan satu per satu personel Krontjong Toegoe. Sorak sorai dan tepuk tangan riuh menggema saat terungkap bahwa para pemain musik tersebut berasal dari latar belakang daerah dan keyakinan iman yang sangat beragam.
Di atas panggung GIK malam itu, perbedaan identitas luluh dalam harmoni nada. Ini adalah refleksi nyata dari wajah Indonesia yang sesungguhnya—Bhinneka Tunggal Ika yang hidup dan berdenyut. Musik keroncong menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan bukan sekat, melainkan instrumen yang memperkaya simfoni kebersamaan.
Kepuasan audiens terlihat saat Melody mengumumkan lagu terakhir. Banyak penonton yang berteriak meminta encore atau lagu tambahan, sebuah bukti bahwa pengalaman musikal yang dihadirkan oleh Krontjong Toegoe sangat membekas di hati.

Ruang Budaya yang Berkelanjutan
Lisa Michiels, Manager Krontjong Toegoe, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Galeri Indonesia Kaya. Menurutnya, konsistensi GIK dalam menyediakan ruang bagi seniman tradisi adalah kunci agar budaya bangsa tidak ditelan zaman.
“Galeri Indonesia Kaya berperan penting dalam menjaga dan melestarikan tradisi budaya bangsa yang beragam, termasuk musik keroncong, agar terus hidup dan menjangkau generasi muda,” ungkap Lisa.
Melalui perhelatan “Kidung Natal Indonesia”, Galeri Indonesia Kaya kembali mempertegas posisinya bukan sekadar galeri, melainkan institusi budaya yang aktif merawat tradisi, memperkuat nilai kebersamaan, dan merangkul keberagaman Indonesia dalam satu harmoni yang indah







