Gunung Padang mematri ingatan belasan tahun lalu. Situs berharga, warisan karya megalitikum
Gunung Padang mematri ingatan belasan tahun lalu. Situs berharga, warisan karya megalitikum-punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Konon berdiri megah di era prasejarah, 10.000-25.000 tahun sebelum masehi. Peradaban yang hilang, tanda digdaya nenek moyang kita dahulu. Waktu disambangi, ia ‘hanyalah’ bukit meninggi di Dusun Gunungpadang, Dusun Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Onggokan batu terserak tak beraturan, adalah sisi tersusun rapi mirip dinding atau pelataran. Pelesir ke sana tak berapa sulit, sebatas 20 km dari persimpangan Warungkondang, jalur antara Cianjur-Sukabumi, dekat jalan besar antarpropinsi. Sampai lokasi, cuma perlu energi lebih dan dengkul kokoh melawan pegalnya pendakian 885 meter dpl.

Hamparan batu tindih menindih membawa kepedihan hati. Bagaimana mungkin zona bersejarah dengan komplek utama 900 m2 dalam total keseluruhan 3 ha terbengkalai begitu rupa? Dahyat! Padahal ini bukti tingginya peradaban nenek moyang dalam kondisi tak terurus apalagi tertata.
Situs ini terkuak tahun 1914 atas laporan Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD) , bahasa kita: Buletin Dinas Kepurbakalaan. Penemunya arkeolog tekun, meener Nicolaas Johannes Krom. Saat Belanda hancur oleh Jepang dan terjadi revolusi, zona ini terlupakan dan baru ditemukan kembali oleh Endi, Soma, dan Abidin, trio warga lokal. Ketiganya lapor kang Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka. Selanjutnya dicek R. Adang Suwanda, pejabat Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur. Dari situ terjadi aktivitas arkeologi, sejarah, dan geologi dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979. Hasilnya, uji karbon bukti ilmiah, situs ini kira-kira berumur 500-200 tahun sebelum masehi atau 500/200 tahun sebelum Nabi Isa Al Masih lahir. Istana atau bisa jadi persembahyangan Prabu Siliwangi sang raja Sunda. Tapi tetap saja, berantakan, jauh dari bentukan tempat ibadah apalagi istana. Gunung Padang sebatas onggokan batu terserak, menyisakan kisah kehebatan, romantika kadigdayaan, tempat cari ilham atau sebatas haru atas porak-porandanya bebatuan.

2025 kini, kabar luarbiasa terdengar! Bapa Aing-Dedi Mulyadi, Gubernur Jabar, pejabat viral, nyeleb, master konten menyambangi wilayah ini (15/12-2025). Komitmennya atas kelestarian budaya tak terbantahkan. Ia serius menanamkan pride kejayaan leluhur dan intens menyuarakat bahwa warisan Nusantara tidak boleh tercerabut dalam sanubari warga Sunda dan seluruh insan Indonesia umumnya. Di moment itu dia bilang, ”Negara bertanggung jawab penuh terhadap berbagai rekonstruksi peninggalan sejarah. Biaya harus tersedia, kalaupun tidak tersedia harus disediakan.” Ia meneruskan,”Semoga dimulai pemugaran total dan bisa terwujud. Kita tidak lagi bicara mana kewenangan Kementerian Kebudayaan, mana kewenangan Pemerintah Provinsi, mana kewenangan kabupaten. Seluruhnya adalah hak dan kewajiban kita untuk memelihara. Yang membedakan hanya nomenklatur pembiayaan saja,” tegasnya bergetar pada media peliput yang menyimak dengan takzim.
Ini pencerahan dan boleh berharap. Katakanlah 10 tahun ke depan, berbagai jenis manusia, suku agama ras datang ke sana. “Amazing, awesome, fantastic,” kata turis manca.”Baru ngeh neneh moyang kita ex-traordinary! Benarkan ini dibuat manusia? Atau Aliens?” kagum turis lokal. Penduduk menjajakan kuliner Sunda, bikin T-Shirts Gunung Padang. Belum lagi sewa inap hotel kelas Melati sampai resort buat kaum nyaman bergelimang harta. Warga kordinasi, anak-anak mereka intens kuliah bahasa asing atau otodidak bahasa Jepang, Korea, Cina bahkan India, Arab. Semua atas desakan perlunya guide profesional dampingi pelancong. Mereka yang datang jadi paham dan kagum- Prabu Siliwangi agung nian. Sunda bukanlah pepesan kosong tapi intan permata di luar nalar awam. Bangunanya sendiri, bikin melongo! Berdiri kharismatik di atas bukit, kokoh menjulang dalam estetika kerajaan atau tempat peribadatan yang menghadap Gunung Gede. Udara disana berbeda aura, langit tersenyum dan semesta lain sumringah. Cianjur bergema dan Nusantara berbinar.
Ini masih angan-angan, tapi setidaknya sudah ada pergerakan memulai. Salut buat policy maker tatar Sunda, Dedi Mulyadi a.k.a KDM bukan sekedar Bapa Aing, ia menjadi Bapa Kulo, Bapak Ambo, Bokap Gue dan seterusnya.
We all have a dreams….
Penulis : Isfandiari MD




